02 Agustus 2008

ANTARA IKHLAS DAN PROFESIONALISME

Keikhlasan dan Profesionalisme :
Dua Konsep Dasar Kerja Kita
Latar Belakang
Kerapkali terdengar komentar miring, bahwa jika suatu pekerjaan yang dilakukan atas dasar keikhlasan berarti kurang profesional, sebaliknya pekerjaan yang profesional berarti tidak ikhlas. Keikhlasan secara keliru ditampilkan dalam kerja seadanya atau "semampunya" dalam arti minimalis, sedangkan profesional dikesankan pekerjaan yang serius tapi serba uang. Tampak kesan, bahwa keduanya (keikhlasan dan profesionalisme) tidak dapat dipertemukan.
Konsep Ikhlas dan Profesional Bertemu dalam Diri Seorang Beriman
Sejatinya, konsep keikhlasan dan profesionalisme adalah dua hal yang berbeda dan tidak perlu dikonfrontasikan. Keduanya perlu kita kembangkan dan terapkan. Keikhlasan mengacu pada lurusnya niat dan harapan untuk mendapatkan ridho Allah atas pekerjaan yang dilakukan, sedangkan profesionalisme mengacu pada ketinggian standar dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, baik standar teknis (prosedur) maupun standar etika. Dalam diri seorang beriman, konsep keikhlasan dan profesionalisme idealnya dapat bertemu karena agama mensyaratkan ikhlas sebagai landasan setiap pekerjaan atau (perbuatan) dan agama pula yang menyatakan, bahwa muslim yang baik adalah mereka yang bekerja dengan sebaik-baiknya (itqan). Dalam bahasa lain, itqan adalah profesional.
Hubungan Profesionalisme dan Kerja Sosial
Profesionalisme sejatinya lebih merujuk pada kemampuan dan sikap seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan dengan standar tertentu, termasuk standar etik. Profesionalisme menghajatkan ilmu dan ketrampilan tertentu yang didapat dengan pendidikan dan atau pelatihan tertentu pula.
Profesionalisme sering diterjemahkan dengan aspek keuangan atau pembayaran. Kerja profesional seolah menjadi lawan kata dari kerja sosial. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena sebenarnya apakah suatu pekerjaan dilakukan dengan standar gaji tertentu atau dilakukan dalam konteks kerja sosial (seringkali disebut dengan bakti sosial) hanyalah soal kesepakatan (kontrak) saja. Artinya semua pekerjaan bagi seorang beriman, sebagaimana diarahkan oleh Nabi Allah, seharusnya dilakukan secara profesional, baik dalam konteks bakti sosial maupun bukan.
Hubungan Keikhlasan dan Profesionalisme
Keikhlasan diharapkan tidak berkurang ketika dipertemukan dengan konsep profesionalisme. Setiap pekerjaan harus didasari oleh keikhlasan dan dikerjakan secara profesional. Dalam sebuah pekerjaan yang profesional tidak harus berarti tidak ada keihlasan. Sebuah pekerjaan yang disepakati sebagai kerja sosial juga tidak boleh kehilangan nilai-nilai profesionalismenya, artinya tetap dilakukan dengan standar prosedur maupun satndar etika yang tinggi.
Implementasi
Apabila keikhlasan dan profesionalisme dapat kita satukan dalam konsep diri kita, maka kita tidak akan pernah lagi membuat dikotomi pekerjaan menjadi profesional atau tidak. Semua pekerjaan kita lakukan dengan sungguh-sungguh karena keikhlasan juga mensyaratkan kesungguhan. Kerja sosial juga dilakukan secara profesional, sebagaimana kerja profesional juga harus tetap menjaga keikhlasan motivasi.
Hari bakti dokter yang telah dicanangkan oleh Ikatan Dokter Indonesia menjadi salah satu contoh ilustrasi. Setiap tanggal 20 Mei para dokter Indonesia membebaskan biaya periksa atau konsultasi semua pasiennya. Para dokter melakukan bakti sosial di ruag-ruang praktek mereka baik di rumah sakit maupun praktek pribadi mereka. Tak ada perbedaan pelayanan terhadap pasien mereka pada hari bakti dokter dibandingkan dengan pelayanan di luar hari bakti dokter, meskipun pelayanan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi diberikan gratis. Ikatan Dokter Indonesia mengharapkan pada masa berikutnya hari bakti dokter dapat dilaksanakan tidak hanya setahun sekali, misalnya satu bulan sekali.
Ilustrasi hari bakti dokter diharapkan dapat menjadi cermin berbagai kegiatan sosial yang kita lakukan agar tetap menjaga profesionalisme dalam pelaksanaannya. Bulan Sabit Merah Indonesia Cabang Yogyakarta misalnya mendorong agar dokter-dokter relawannya menyediakan layanan pemeriksaan gratis di ruang prakteknya setidaknya satu bulan sekali. Beberapa dokter BSMI Yogyakarta telah mencanangkan Kamis gratis untuk pelayanan konsultasi/periksa dokter, misalnya dr. Siswanto (dokter umum) dan dr. Bambang Edi (Spesialis Anak). BSMI Cabang Yogya juga bekerja sama dengan beberapa dokter untuk membuka pelayanan kesehatan sosial di ruang praktek masing-masing dokter di berbagai wilayah. Kegiatan ini diharapkan akan lebih baik daripada pelayanan kesehatan massal yang selama ini dikenal dengan sebutan baksos, meskipun baksos tetap dilakukan juga di tempat-tempat tertentu.
Peluang yang sama dapat dilakukan oleh berbagai profesi selain dokter. Model praktek keperawatan profesional dapat diterapkan oleh para perawat yang saat ini sudah mengantongi ijazah Sarjana Keperawatan dan Nurse (Ns). Konsultasi gizi secara profesional dapat diberikan kepada masyarakat dengan gratis pula secara periodik. Para laboran (ahli madya analis kesehatan) dapat melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana semisal urinalisis secara gratis sebagai uji penapisan (skrining) periodik. Ahli madya kesehatan lingkungan dapat memberikan konsultasi pengelolaan limbah dan sebagainya. Profesi lain di luar profesi kesehatan dapat memberikan pelayanan profesional gratis, misalnya konsultasi masalah pertanahan bagi alumni STPN atau konsultasi hukum bagi para sarjana hukum yang berdedikasi.
Bersatunya keikhlasan dan profesionalisme adalah identitas para profesional muslim yang harus kita manifestasikan dalam karya-karya kita. Bagaimana peran para mahasiswa yang belum profesional? Mereka harus kita libatkan sebagai bagian dari upaya pembentukan karakter agar profesional masa depan tidak terjebak menjadi terlalu komersial.

15 Juli 2008

Keajaiban ASI

KEAJAIBAN ASI

Kemajuan teknologi di bidang nutrisi bayi memang sangat maju, sehingga dewasa ini telah berhasil diproduksi berbagai susu formula untuk berbagai kondisi, seperti susu khusus untuk bayi prematur atau bayi dengan masalah khusus lainnya. Namun yang perlu kita ketahui, bahwa acuan berbagai penelitian dan produksi susu formula itu adalah kandungan ASI. Artinya ASIlah yang sebenarnya merupakan makanan terbaik untuk bayi. Karenanya susu formula tidak dapat dan tidak boleh disebut sebagai pengganti ASI. Andaikata teknologi sedemikian maju, sehingga susu formula dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi, tetap saja ada hal yang tidak tergantikan, yakni kedekatan hubungan antara ibu dan anak yang hanya dapat tercipta secara optimal melalui pemberian ASI. Jadi, sangat bijaksana jika al-Quran merekomendasikan ibu-ibu untuk menyusui anaknya dalam dua tahun.

Dalam beberapa hal, susu formula diperlukan sebagai pendamping ASI, bukan pengganti ASI, misalnya karena keterbatasan ibu dalam memberikan ASI. Ajaibnya, jika karena sebab tertentu secara kuantitas produksi ASI tidak cukup banyak ternyata secara kualitas tetap baik. Misalnya, pada wanita yang mempunyai masalah gizi, misalnya produksi ASI sedikit tetapi kualitas ASI tetap baik.
Mengingat berbagai keunggulan ASI, para ulama berpendapat bahwa menyusui merupakan salah satu alasan yang dibenarkan bagi seorang wanita untuk tidak berpuasa Ramadhan. Islam sangat peduli dengan kecemerlangan masa depan anak dengan cara menjamin keberlangsungan pemberian ASI sekaligus sangat manusiawi karena mendispensasi wanita yang menyusui dari kewajiban puasa Ramadhan. Subhanallah!
Memang, ASI bukan tidak mempunyai keterbatasan. Kandungan zat besi dalam ASI tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi bayi setelah mencapai usia 6 bulan. Karenanya, setelah enam bulan, kebutuhan zat besi anak tidak dapat dicukupi hanya dengan pemberian ASI. Kebutuhan zat besi pada bayi 6 bulan ke atas dapat dipenuhi dengan suplementasi zat besi sebelum bayi trampil mengkonsumsi makanan makanan yang kaya zat besi alamiah, yakni daging atau ikan. Susu formula yang diperkaya dengan zat besi dapat pula diberikan mulai usia 6 bulan ini. Ikatan Dokter Anak Indonesia saat ini merekomendasikan pemberian suplemen besi pada bayi normal mulai usia 4 bulan mengingat banyaknya kasus defisiensi besi pada anak Indonesia. Hal ini tidak mengurangi anjuran pemberian ASI karena kandungan zat gizi dalam ASI secara umum tetap lengkap. Bahkan, jika dimungkinkan ASI tetap diberikan sampai anak berusia dua tahun sesuai anjuran agama dan ilmu kedokteran.

Sayangnya, dewasa ini banyak wanita meninggalkan pemberian ASI karena ketidaktahuan atau ketidakmauan, padahal para ahli sudah memberikan petunjuk bagaimana strategi pemberian ASI untuk wanita karir. Demikian pula para ahli telah memberikan jawaban seputar mitos gangguan kosmetik akibat penyusuan.

Serbuan iklan susu formula demikian dahsyatnya, sehingga jika tidak disikapi secara proporsional akan menyebabkan ibu-ibu menghentikan pemberian ASI. Seyogyanya para ibu menempatkan susu formula maksimal sebagai pendamping dan bukan pengganti ASI karena sekali lagi ASI tidak akan pernah dapat tergantikan oleh susu formula. Dokter, rumah sakit dan klinik bersalin jangan mendorong ibu-ibu untuk menggunakan susu formula.

ASI, ajaib dan terbaik karena kandungan zat gizi maupun zat kekebalannya. Berikan ASI karena ia juga ekonomis, praktis dan : pasti higienis! Tapi yang tak kalah ajaibnya adalah banyak para ibu di Indonesia tidak mempraktekkan pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama usia bayinya karena berbagai alasan, sementara di negeri Barat justru hal itu sangat diperhatikan, sehingga cuti bersalin di beberapa negeri Barat adal;ah enam bulan.